PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN AUTISME
PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN AUTIS
Apa Penyebab Penyakit Autis?
Penyebab yang pasti dari penyakit autisme hingga hari ini belum diketahui, tetapi yang pasti autisme bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah. Penelitian terbaru menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.
Dr. Kenneth Bock mengatakan bahwa pasien autis kelebihan dalam kadar mercury, cadmium, lead, arsenic dan tin. “He had elevated levels of not only mercury but cadmium, lead, arsenic and tin,” said Bock. “There may be a subset of children that are more susceptible to mercury and therefore react this way in terms of the autism spectrum.”
Dr. Bock juga mengatakan pasien autis dapat di terapi dengan spesial diet, penambahan supplement dan pembuangan racun. “Dr. Kenneth Bock believes that autism can be effectively treated through special diets, nutritional supplements and removal of toxins. Bock tested Paul’s urine and found elevated mercury levels.”
Ciri-Ciri Autis
- gangguan interaksi sosial
- hambatan dalam komunikasi verbal dan non-verbal
- kegiatan dan minat yang aneh atau sangat terbatas.
- Sifat-sifat lainnya yang biasa ditemukan pada anak autis:
- Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain
- Tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya
- Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata
- Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri
- Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka
- Jarang memainkan permainan khayalan
- Memutar benda
- Terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik
- Secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif
- Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang normal
- Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau menerima/mengalami perubahan
- Tidak takut akan bahaya
- Terpaku pada permainan yang ganjil
- Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)
- Tidak mau dipeluk
- Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap seolah-olah tuli
- Mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya melalui kata-kata, -lebih senang meminta melalui isyarat tangan atau menunjuk
- Jengkel/kesal membabi buta, tampak sangat rusuh untuk alasan yang tidak jelas
- Melakukan gerakan dan ritual tertentu secara berulang (misalnya bergoyang-goyang atau mengepak-ngepakkan lengannya)
- Anak autis mengalami keterlambatan berbicara, mungkin menggunakan bahasa dengan cara yang aneh atau tidak mampu bahkan tidak mau berbicara sama sekali. Jika seseorang berbicara dengannya, dia akan sulit memahami apa yang dikatakan kepadanya. Anak autis tidak mau menggunakan kata ganti yang normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan sebagai saya).
- Pada beberapa kasus mungkin ditemukan perilaku agresif atau melukai diri sendiri.
- Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil (tidak ingin menendang bola tetapi dapat menyusun balok)
Gejala-gejala tersebut bervariasi, bisa ringan maupun berat. Selain itu, perilaku anak autis biasanya berlawanan dengan berbagai keadaan yang terjadi dan tidak sesuai dengan usianya.
Bagaimana Mengatasi Autisme?
Bebarapa studi terbaru yang dilakukan oleh para pakar yang ahli dibidang autis telah menemukan solusi yang cukup menggembirakan bagi para orang tua yang putra putri nya terkena gejala autisme
Studi 1
dilakukan oleh Dr. Kenneth Bock
Penelitian ini dilakukan kepada 9 anak-anak yang menderita: usia 2.9-9.9 tahun. anak-anak ini diberikan 3 kapsul transfer factor, 3 kali sehari selama 3 bulan. setiap pasien sebelumnya belum pernah diterapi. Dr. Bock menggunakan metode Gilliam Autism Rating Scale untuk tujuan evaluasi. metode ini terdiri dari faktor2 yang biasanya terjadi pada pasien autis pada umumnya. total score adalah tanda apakah anak tersebut sudah normal atau masih perlu terapi. apabila score sangat tinggi, menandakan tingkat autis sangat tinggi.
Setelah terapi selama 3 bulan, 7 dari 9 anak-anak mengalami perkembangan yang bagus. terutama perkembangan pada:
- Lebih memberikan perhatian
- Eye contact meningkat
- eczema membaik
- penurunan terjadinya sakit
- peningkatan kemampuan berbahasa
- perbaikan di diarrhea
- pengingkatan kebersihan ketika di toilet
Studi 2
dilakukan olehDr. David Morkowitz
“beberapa hasil menarik dari penelitian yang saya lakukan, 4-5 anak-anak autis, memulai transfer factor dengan tujuan mendidik sistem imun mereka dan berharap membuat mereka lebih sehat. hasilnya sangat bagus, transfer factor bekerja. semua perkembangannya menunjukan pada lebih baiknya kemampuan berkomunikasi, interaktif skill, dan mengurangi interaksi dengan diri sendiri. orang tua sangat senang. Dr. Kenneth Bock in New York juga telah melakukan observasi yang serupa. sangat luar biasa apa yang sistem imun dapat lakukan”
SOLUSI AUTISME
Seperti hasil study di atas, gunakan transfer factor untuk terapi autis. semakin cepat pasien autis itu diberikan transfer factor, semakin baik kondisi pasien.
Dr.David Markowitz, seorang dokter spesialis anak melakukan penelitian selama 12 bulan terhadap transfer factor menemukan dari 88 anak yang mengkonsumsi transfer factor 2 cap per hari selama 8 bulan, didapatkan 74% penurunan jumlah penderita penyakit,dan 84% penurunan dalam penggunaan antibiotik pada anak-anak yang sakit.yang terpenting bahwa tidak ditemukan adanya efek samping pada anak-anak, Dr. David mengindikasikan terjadi penghematan lebih US$25.000 oleh group yang mengkonsumsi transfer factor dalam hal perawatan rumah-sakit, kunjungan dokter dan biaya pengobatan.




Dicari Distributor 4Life untuk seluruh kota di Indonesia
July 18th, 2010 at 3:46 pm
Dear Sir,
Our son name Rafi Agung, 12 years old, have specifications as autism, long years we try any method from accupunture, attitude theraphy, speak theraphy, medicine, until message. But til now not any change any more.
So in this time we hope any method that can solve this problem.
We are waiting your reply as soon as possible
Best regards
Bunari s